Minggu, 06 Mei 2012

Laporan Praktikum Aspirin


Judul               :Pembuatan Aspirin
Tujuan             :Membuat asam asetil salisilat dari asam salisilat dan anhidrida asam              asetat melalui reaksi asetilasi (sejenis reaksi esterifikasi)
Prinsip             :Berdasarkan reaksi esterifikasi
Teori dasar      :
Aspirin adalah merek dagang yang dimiliki oleh perusahaan farmasi Jerman yaitu Bayer, dengan istilah generiknya adalah Asam Salisilat (ASA). Obat ini sering digunakan sebagai analgesik untuk menghilangkan atau meringankan rasa nyeri, sebagai antipiretik untuk mengurangi demam, serta sebagai anti-inflamasi untuk mengurangi peradangan. Aspirin kadang juga digunakan untuk mengobati atau mencegah serangan jantung, stroke dan angina (nyeri dada). Aspirin terkenal sebagai suatu antiplatelet yang mana digunakan untuk mencegah pembekuan darah dalam jangka panjang untuk mencegah serangan jantung dan stroke pada pasien yang berisiko tinggi terhadap penyakit ini. Saat ini, aspirin sering diberikan kepada pasien setelah mengalami serangan untuk mencegahnya terulang kembali. Selain itu, manfaat aspirin lainnya adalah dapat meringankan gejala sakit kepala sebelah, katarak, penyakit gusi, serta memperlambat perkembangan kanker usus.
Aspirin harus digunakan untuk kondisi kardiovaskular serta di bawah pengawasan dokter. Obat aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak yang mengalami demam, terutama jika mereka memiliki gejala-gejala flu atau cacar air Aspirin dapat menyebabkan kondisi serius pada anak yang disebut dengan Reye’s syndrome. Reye’s syndome adalah penyakit fatal yang dapat menyebabkan kerusakan pada banyak organ di dalam tubuh, terutama otak dan hati, serta dapat menyebabkan hipoglikemia.
Meskipun aspirin mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan, bukan berarti obat tersebut tidak memiliki efek samping. Penggunaan yang berlebihan serta dosis yang tidak sesuai anjuran dokter, dapat mengakibatkan efek samping yang serius. Berikut beberapa efek samping dari aspirin:
  • Gangguan perut, sakit maag
  • Mengantuk
  • Mual, muntah
  • Telinga berdenging
  • Demam
  • Gatal-gatal
  • Kesulitan bernapas atau asma
  • Reaksi alegi seperti pembengkakan pada wajah, bibir, lidah dan tenggorokkan
  • Gagal ginjal, kerusakan hati
  • Batuk darah
Hentikan segera penggunaan obat aspirin serta segera hubungi dokter jika mengalami gejala efek samping di atas. Anda juga harus menghindari minuman beralkohol saat Anda menggunakan obat ini, karena alkohol dapat meningkatkan resiko pendarahan di dalam perut dan usus.
Selain itu, obat ini juga tidak boleh digunakan pada seseorang yang alergi terhadap ibuprofen atau naproxen, serta pada pasien yang menderita asma. Karena efeknya pada lapisan perut, produsen menyarankan untuk berkonsultasi kepada dokter telebih dahulu sebelum mengkonsumsinya.
Karena obat aspirin sudah ada sejak lama serta dijual dengan harga terjangkau, banyak orang yang tidak percaya bahwa aspirin memiliki banyak manfaat serta jauh lebih efektif dibandingkan obat resep yang harganya seratu kali lebih mahal. Semua obat dapat bekerja maksimal jika digunakan sesuai dosis yang telah ditentukan. Jika Anda ragu, berkonsultasi kepada dokter adalah cara yang paling tepat untuk menghindari resiko efek samping yang berbahaya.
Sejarah penemuan
Senyawa alami dari tumbuhan yang digunakan sebagai obat telah ada sejak awal mula peradaban manusia. Di mulai pada peradaban Mesir kuno, bangsa tersebut telah menggunakan suatu senyawa yang berasal dari daun willow untuk menekan rasa sakit. Pada era yang sama, bangsa Sumeria juga telah menggunakan senyawa yang serupa untuk mengatasi berbagai jenis penyakit. Hal ini tercatat dalam ukiran-ukiran pada bebatuan di daerah tersebut. Barulah pada tahun 400 SM, filsafat Hippocrates menggunakannya sebagai tanaman obat yang kemudian segera tersebar luas
Zaman modern
Reverend Edward Stone dari Chipping Norton, Inggris, merupakan orang pertama yang mempublikasikan penggunaan medis dari aspirin. Pada tahun 1763, ia telah berhasil melakukan pengobatan terhadap berbagai jenis penyakit dengan menggunakan senyawa tersebut. Pada tahun 1826, peneliti berkebangsaan Italia, Brugnatelli dan Fontana, melakukan uji coba terhadap penggunaan suatu senyawa dari daun willow sebagai agen medis. Dua tahun berselang, pada tahun 1828, seorang ahli farmasi Jerman, Buchner, berhasil mengisolasi senyawa tersebut dan diberi nama salicin yang berasal dari bahasa latin willow, yaitu salix. Senyawa ini memiliki aktivitas antipiretik yang mampu menyembuhkan demam. Penelitian mengenai senyawa ini berlanjut hingga pada tahun 1830 ketika seorang ilmuwan Perancis bernama Leroux berhasil mengkristalkan salicin. Penelitian ini kemudian dilanjutkan oleh ahli farmasi Jerman bernama Merck pada tahun 1833. Sebagai hasil penelitiannya, ia berhasil mendapatkan kristal senyawa salicin dalam kondisi yang sangat murni. Senyawa asam salisilat sendiri baru ditemukan pada tahun 1839 oleh Raffaele Piria dengan rumus empiris C7H6O3.
Bayer
Bayer meupakan perusahaan pertama yang berhasil menciptakan senyawa aspirin (asam asetilsalisilat). Ide untuk memodifikasi senyawa asam salisilat dilatarbelakangi oleh banyaknya efek negatif dari senyawa ini. Pada tahun 1945, Arthur Eichengrun dari perusahaan Bayer mengemukakan idenya untuk menambahkan gugus asetil dari senyawa asam salisilat untuk mengurangi efek negatif sekaligus meningkatkan efisiensi dan toleransinya. Pada tahun 1897, Felix Hoffman berhasil melanjutkan gagasan tersebut dan menciptakan senyawa asam asetilsalisilat yang kemudian umum dikenal dengan istilah aspirin. Aspirin merupakan akronim dari:
A
: Gugus asetil
spir
: nama bunga tersebut dalam bahasa Latin
spiraea
: suku kata tambahan yang sering kali digunakan
in
: untuk zat pada masa tersebut.
Aspirin adalah zat sintetik pertama di dunia dan penyebab utama perkembangan industri farmateutikal. Bayer mendaftarkan aspirin sebagai merek dagang pada 6 Maret 1899. Felix Hoffmann bukanlah orang pertama yang berusaha untuk menciptakan senyawa aspirin ini. Sebelumnya pada tahun 1853, seorang ilmuwan Perancis bernama Frederick Gerhardt telah mencoba untuk menciptakan suatu senyawa baru dari gabungan asetil klorida dan sodium salisilat.]
Bayer kehilangan hak merek dagang setelah pasukan sekutu merampas dan menjual aset luar perusahaan tersebut setelah Perang Dunia Pertama. Di Amerika Serikat (AS), hak penggunaan nama aspirin telah dibeli oleh AS melalui Sterling Drug Inc., pada 1918. Walaupun masa patennya belum berakhir, Bayer tidak berhasil menghalangi saingannya dari peniruan rumus kimia dan menggunakan nama aspirin. Akibatnya, Sterling gagal untuk menghalangi "Aspirin" dari penggunaan sebagai kata generik. Di negara lain seperti Kanada, "Aspirin" masih dianggap merek dagang yang dilindungi.
Kerja Aspirin
Coated 325 mg aspirin tablets
Menurut kajian John Vane, aspirin menghambat pembentukan hormon dalam tubuh yang dikenal sebagai prostaglandins. Siklooksigenase, sejenis enzim yang terlibat dalam pembentukan prostaglandins dan tromboksan, terhenti tak berbalik apabila aspirin mengasetil enzim tersebut.
Prostaglandins ialah hormon yang dihasilkan di dalam tubuh dan mempunyai efek pelbagai di dalam tubuh termasuk proses penghantaran rangsangan sakit ke otak dan pemodulatan termostat hipotalamus. Tromboksan pula bertanggungjawab dalam pengagregatan platlet. Serangan jantung disebabkan oleh penggumpalan darah dan rangsangan sakit menuju ke otak. Oleh itu, pengurangan gumpalan darah dan rangsangan sakit ini disebabkan konsumsi aspirin pada kadar yang sedikit dianggap baik dari segi pengobatan.
Namun, efeknya darah lambat membeku menyebabkan pendarahan berlebihan bisa Terjadi. Oleh itu, mereka yang akan menjalani pembedahan atau mempunyai masalah pendarahan tidak diperbolehkan mengonsumsi aspirin.
Aspirin dibuat dengan mereaksikan asam salisilat dengan anhidrida asam asetat menggunakan katalis H2SO4 pekat sebagai zat penghidrasi. Asam salisilat adalah asam bifungsional yang mengandung dua gugus –OH dan –COOH. Karenanya asam salisilat ini dapat mengalami dua jenis reaksi yang berbeda. Dengan anhidrida asam asetat akan menghasilkan aspirin, sedangkan dengan metanol ekses akan menghasilkan metil salisilat.




             Aspirin yang terjadi dapat bereaksi dengan NaHCO3­ membentuk garam natrium yang larut dalam air, sedangkan hasil samping berupa polimer tidak larut dalam bikarbonat.



Kita bisa menggunakan besi(III)klorida untuk menguji kemurnian aspirin. Besi(III)klorida bereaksi dengan gugus fenol membentuk kompleks ungu. Asam salisilat (murni) akan berubah menjadi ungu jika FeCl3 ditambahkan, karena asam salisilat adalah fenol. Jika tidak ada gugus fenol warna larutan tak berubah (kuning).








Alat dan Bahan      :
·         Tabung reaksi
·         Pipet
·         Termometer 
·         Batang pengaduk
·         Erlenmeyer 125 ml
·         Beaker glass 100 ml
·         Asam salisilat
·         Anhidrida asam asetat
·         Natrium asetat anhidrat
·         Piridin
·         Asam sulfat pekat
·         Benzen
·         Natrium bikarbonat
·         Tablet aspirin dari apotek 
 Prosedur                :
·         Tempatkan masing-masing 1 gram salisilat dalam tiga tabung reaksi dan tambahkan ke dalam masing-masing tabung 2 ml anhidrida asam asetat.
·         Ke dalam tabung pertama tambahkan 0,2 gram natrium asetat anhidrat, aduk perlahan dengan thermometer, catatlah waktu yang diperlukan untuk naik 40C dan perkirakan proporsi zat padat yang larut, lanjutkan pengadukan sekali-kali.
·         Ke dalam tabung kedua tambahkan 5 tetes piridin, amati seperti diatas, dan bandingkan dengan hasil pertama.
·         Ke dalam tabung ketiga tambahkan 5 tetes asam sulfat pekat dan amati seperti diatas.
·         Tempatkan semua tabung dalam labu kimia yang berisi air panas selama 5 menit, kemudian tuangkan semua isinya ke dalam Erlenmeyer 125 ml yang berisi air dingin dan bilasi tabung dengan air. Kocok lagi keseluruhan hasil, dinginkan dalam es, dan kumpulkan kristal-kristal yang terjadi. Rekristalisasi dengan alkohol.
·         Ujilah kelarutannya dalam benzen dan dalam air panas dan perhatikan sifat larutan dalam air bila ditinggalkan.
·         Uji juga kelarutan dalam larutan natrium bikarbonat dingin, dan dapat mengendap kembali jika ditambah asam.
·         Bandingkan dengan tablet aspirin dari toko yang diuji kelarutannya dalam air dan benzen (jika ada yang tidak larut, kemungkinan zat pengikat tablet, ujilah dengan larutan iodium-kalium iodida).
 Data pengamatan  :
·         Aspirin + Benzen → Keruh menggumpal
·         Sampel + Benzen → Bening menggumpal
·         Aspirin + Air panas → Keruh + endapan
·         Sampel + Air panas → Bening ada endapan
·         Na2CO3 + Sampel → Bening ada gumpalan melayang
·         Na2CO3 + Aspirin → Keruh menggendap
·         Na2CO3 + Sampel + Acetic anhidrat → Larut membentuk cincin dan gel
·         Na2CO3 + Aspirin + Acetic anhidrat → Keruh keluar gas
·         Aspirin + Benzen + Larutan I2 dalam KI → Larutan hitam
·         Sampel + Benzen + Larutan I2 dalam KI → Larutan merah (warna I2) dan endapan putih (terbentuk 2 fase)
·         Aspirin + Air panas + Larutan I2 dalam KI → Larutan hitam dan endapan putih (terbentuk 2 fase)
·         Sampel + Air panas + Larutan I2 dalam KI → Larutan merah (warna I2) dan endapan putih (terbentuk 2 fase)




Pembahasan           :
Pada pembuatan aspirin aspirin ini mula-mula dicampurkan 1 g asam salisilat dengan anhidrida asam asetat. Reaksi yang terjadi adalah reaksi esterifikasi yang merupakan prinsip dari pembuatan aspirin. Reaksi esterifikasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Ester dapat terbentuk salah satunya dengan cara mereaksikan alkohol dengan anhidrida asam. Dalam hal ini asam salisilat berperan sebagai alkohol karena mempunyai gugus –OH, sedangkan anhidrida asam asetat tentu saja sebagai anhidrida asam. Ester yang terbentuk adalah asam asetil salisilat (aspirin). Gugus asetil (CH3CO-) berasal dari anhidrida asam asetat, sedangkan gugus R-nya berasal dari asam salisilat (pada gambar di atas gugus R ada di dalam kotak). Hasil samping reaksi ini adalah asam asetat.
Langkah selanjutnya adalah penambahan asam sulfat pekat yang berfungsi sebgai zat penghidrasi. Telah disebutkan di atas bahwa hasil samping dari reaksi asam salisilat dan anhidrida asam asetat adalah asam asetat. Hasil samping ini akan terhidrasi membentuk anhidrida asam asetat. Anhidrida asam asetat akan kembali bereaksi dengan asam salisilat membentuk aspirin dan tentu saja dengan hasil samping berupa asam asetat. Jadi, dapat dikatakan reaksi akan berhenti setelah asam salisilat habis karena adanya asam sulfat pekat.
Tetapi harus diperhatikan bahwa sebelum dipanaskan, reaksi tidak benar-benar terjadi. Reaksi baru akan berlangsung dengan baik pada suhu 50-60°C. Juga pada percobaan ini baru terbentuk endapan putih (aspirin) setelah dipanaskan. Kemudian endapan tersebut dilarutkan dalam air dan disaring untuk memisahkan aspirin dari pengotornya. Tetapi tentu saja dengan penyaringan ini aspirin yang dihasilkan belum benar-benar murni.

Kesimpulan     :
1. Aspirin dapat dibuat dengan mereaksikan asam salisilat dengan anhidrida asam asetat dengan adanya H2SO4.
2.Prinsip pembuatan aspirin adalah reaksi esterifikasi.
3.Pelarut organik (seperti benzena) dapat digunakan untuk rekristalisasi senyawa organik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar